Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Kemendikbud Ajak Guru dan Orang Tua Bersinergi Wujudkan Lingkungan Anti Kekerasan Anak

Selasa, 03/11/2015 09:50:25

07stop kekerasan pada siswa.jpg

Jakarta, Kemendikbud --- Berbagai kasus kekerasan terhadap anak baik secara verbal ataupun fisik kerap terjadi di sekitar lingkungan sekolah, seperti yang terjadi baru-baru ini di salah satu sekolah di daerah Jakarta Selatan yang melibatkan dua orang siswa Sekolah Dasar (SD) dan jatuh korban jiwa. Hal ini menjadi keprihatinan pemerintah melihat kasus tersebut. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengajak seluruh aktor pendidikan, khususnya guru dan orang tua untuk bersinergi mewujudkan lingkungan anti kekerasan terhadap anak.

“Kondisi memprihatinkan yang baru saja terjadi di lingkungan sekolah dasar sebetulnya dapat terjadi di mana saja. Disini sangat penting sinergi peran guru dan orang tua dalam membangun karakter anak melalui keteladanan positif, sehingga perilaku kekerasan dapat di hindari sejak dini di mulai dari lingkungan keluarga,” demikian disampaikan Staf Ahli Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Bidang Hubungan Pusat dan Daerah James Modouw, saat menghadiri acara bincang-bincang di salah satu televisi swasta, Senin (21/09/2015).

James mengatakan, porsi pendidikan yang diberikan kepada anak dilihat dari waktu selama 24 jam, sekolah mengambil peran sekitar 8 jam melakukan proses belajar mengajar, dan sisa dari waktu tersebut proses pendidikan berada di keluarga dan lingkungan masyarakat. “Disinilah pentingnya sinergi antara pendidikan di sekolah dan di rumah, saling bekerja sama, saling memberitahu apa yang terjadi di sekolah dan di rumah,” ujarnya.

Untuk menekan dan mengurangi tindak kekerasan di lingkungan sekolah, Kemendikbud melakukan berbagai upaya dengan mengeluarkan program-program penumbuhan karakter positif pada anak. Program tersebut salah satunya adalah Penumbuhan Budi Pekerti. Selain itu juga, terdapat penambahan jam mata pelajaran pendidikan agama. Penambahan jam ini dilakukan sebagai upaya menumbuhkan nilai-nilai religius pada anak.

Pada kesempatan yang sama, Psikolog anak Sani B. Hermawan mengungkapkan pendapatnya tentang hal yang terjadi di salah satu SD Negeri di daerah Jakarta Selatan. Ia mengatakan, kekerasan yang terjadi di sekolah tersebut diawali dengan adanya tidakan kekerasan verbal atau saling mengejek antar teman. “Dengan adanya tindakan mengejek tersebut, salah satu dari mereka merasa dipermalukan, dan ketika itu sudah terakumulasikan sehingga timbul emosi yang luar biasa, dan akhirnya terjadilah penyerangan. Kalau dalam keadaan seperti ini sudah terakumulasi rasa kesal maka akan muncul kekuatan yang sangat luar biasa,” jelas Sani.

Menanggapi titik permasalahan yang terjadi, Sani menuturkan, peran guru bimbingan konseling (BK) sangat diperlukan dalam memahami karakter siswa. Jika seorang siswa memiliki masalah dan berpotensi akan melakukan tindakan kekerasan terhadap teman sebayanya, guru BK dapat lebih dahulu mengetahui dan langsung melakukan pendekatan dengan siswa tersebut. “Guru BK dapat menjadi teman curahan hati (curhat) yang baik, sehingga siswa tersebut bisa menyampaikan permasalahan-permasalah yang membebani pikirannya. Dengan begitu dapat menghindari tindak kekerasan dengan teman sebayanya,” ujarnya.

Sani sependapat dengan yang disampaikan James dengan pola sinergi antara guru dan orang tua. Sinergi tersebut sangat penting dilakukan, karena seorang anak terkadang tidak memunculkan perilaku initinya ketika berada di rumah. “Perilakunya akan muncul ketika berinteraksi dengan teman sebayanya apakah anak tersebut ingin mendominasi diantara temannya. Orang tua dapat memaikan perannya ketika anak sedang di rumah untuk memperbaiki perilaku negatif anak melalui keteladanan,” jelasnya.

Sani menambahkan, keluarga dan sekolah bisa melakukan pendekatan asertif. Orang tua dan guru dapat mengarahkan anaknya untuk berani mengatakan tidak terhadap hal negatif tanpa menyakitkan hati orang lain. “Anak SD pemikirannya masih konkrit tidak hanya diberikan teori semata, tetapi harus diberikan dengan contoh teladan yang dilakukan setiap saat dengan pengulangan-pengulangan, sehingga dapat terbentuk karakter dengan kepribadian dan perilaku positif,” jelas Sani. (Seno Hartono) Sumber: http://www.kemdikbud.go.id/kemdikbud/berita/4646

Posting oleh Teguh Triwiyanto 5 tahun yang lalu - Dibaca 21486 kali

 
Tag : #Kekerasan pada anak # guru # orang tua

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Senin, 30/11/2020 09:07:18
Pengembangan Budaya Organisasi Sekolah Swasta Unggul

Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan pengembangan budaya organisasi Sekolah Menengah Pertama Swasta...

Senin, 09/11/2020 08:38:41
Implementasi Kurikulum dan Pembelajaran di Masa Pandemi Covid-19

Malang. Pandemi covid-19 rupanya tak kunjung membaik hingga memasuki tahun ajaran baru 2020/2021. Namun sudah terlihat...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
7 tahun yang lalu - dibaca 78951 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
7 tahun yang lalu - dibaca 59488 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
7 tahun yang lalu - dibaca 88645 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
7 tahun yang lalu - dibaca 65638 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
5 tahun yang lalu - dibaca 64302 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
5 tahun yang lalu - dibaca 73851 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
7 tahun yang lalu - dibaca 64502 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
7 tahun yang lalu - dibaca 47431 kali
Info MBS
3 Inspirasi Manajemen Berbasis Sekolah...
2 bulan yang lalu - dibaca 1034 kali
Melihat Kendala Terberat Saat Membuka Kembali Sekolah di Masa Pandemi
Melihat Kendala Terberat Saat Membuka...
3 bulan yang lalu - dibaca 1411 kali
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak Harus Terbebani Target Kurikulum
Kemendikbud: Belajar dari Rumah Tidak...
4 bulan yang lalu - dibaca 1564 kali
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
Nasib Pelajar di Tengah Pandemi 
5 bulan yang lalu - dibaca 1479 kali
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua Penting dalam Pelaksanaan Belajar Dari Rumah
Survei Kemendikbud: Peran Orangtua...
5 bulan yang lalu - dibaca 2273 kali
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud Sederhanakan Kurikulum
Hadapi Pandemi Covid-19, Kemendikbud...
5 bulan yang lalu - dibaca 2213 kali
Kemendikbud: Tahun Ajaran Baru Bukan...
6 bulan yang lalu - dibaca 2532 kali
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI Usul Kurikulum Sekolah Era Pandemi Covid-19
New Normal di Dunia Pendidikan : PGRI...
6 bulan yang lalu - dibaca 3123 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2020 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.51 Mb - Loading : 1.21321 seconds