Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Pengembangan Bahan Ajar Bebasis Potensi Wilayah

Selasa, 17/06/2014 05:44:36
23mbs-klaten-bantul.jpg
Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia (Dahuri et al., 1998) dan memiliki kekayaan sumberdaya pesisir yang belum dimanfaatkan secara optimal untuk kesejahteraan hidup masyarakat. Kekayaan sumber daya pesisir tersebut merupakan potensi pembangunan yang sangat berharga bagi bangsa Indonesia. Sayangnya, berbagai perilaku destruktif masyarakat telah mempercepat laju kerusakan berbagai potensi tersebut.

Pemerintah melalui Kemendiknas dan Kementerian Kelautan dan Perikanan telah meletakkan sandaran utama pembangunan masyarakat pesisir yang menyeimbangkan pembangunan ekonomi dengan daya dukung lingkungan menuju pembangunan pesisir dan pulau-pulau kecil secara berkelanjutan. Sandaran tersebut sejalan dengan sasaran program UNESCO dalam pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable Development, ESD) yang ditujukan untuk menjaga kelestarian lingkungan, keberlanjutan ekonomi, dan kesejahteraan sosial. Perhatian ini didasarkan pada rendahnya kualitas sumberdaya manusia (SDM) pesisir untuk berpartisipasi dalam memecahkan permasalahan pembangunan pesisir. Dalam program tersebut, UNESCO menitikberatkan pembangunan pendidikan pada siswa SMP (secondary school). UNESCO berpandangan bahwa siswa SMP perlu disiapkan sejak dini agar perubahan fisiologis dan psikologis mereka berdampak positif pada tata cara mereka mengakses pelajaran dan memiliki prilaku serta gaya hidup yang diperlukan untuk menyiapkan dan memperoleh masa depan yang lebih baik.

Untuk membentuk SDM pesisir yang berkualitas, perlu melaksanakan pendidikan yang berbasis potensi masyarakat pesisir, misalnya dengan merancang bahan ajar yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa. Bahan ajar tersebut disusun dengan memanfaatkan segala potensi pesisir yang menarik dan dibutuhkan karena terkait dengan kehidupan siswa sehari-hari. Dengan menggunakan bahan ajar seperti ini, siswa dapat mengenal, memahami, menyadari, dan menjadi pemecah masalah yang baik (good problem solver).

Buku-buku matematika yang digunakan di sekolah saat ini belum memuat berbagai masalah terkait potensi pesisir. Kondisi ini berakibat pada rendahnya ketertarikan siswa untuk mempelajari matematika sehingga semakin menjauhkan siswa dari tujuan mereka bersekolah. Saah satu tujuan siswa pesisir bersekolah adalah untuk memiliki pengetahuan yang dapat digunakan untuk memanfaatkan potensi yang dimilikinya dan di sekitarnya agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya. Kejenuhan siswa muncul ketika bahan ajar dan proses pembelajaran yang digunakan guru tidak terkait dengan permasalahan hidup siswa sehari-hari.

Dalam perkembangan teori pembelajaran dapat diketahui bahwa bahan ajar matematika merupakan salah satu faktor yang menentukan tercapainya tujuan pembelajaran matematika. Posisi penting bahan ajar tersebut mengharuskan pemanfaatan dan pengembangannya untuk terus dupayakan secara terarah. Pengembangan bahan ajar matematika dilakukan untuk mengantisipasi dan menjawab berbagai masalah dan kebutuhan yang muncul sebagai akibat dari perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi serta tuntutan dan permasalahan masyarakat yang semakin kompleks. Sebagai mata pelajaran wajib pada setiap jenjang pendidikan serta dianggap sulit dipelajari dan sulit diajarkan, bahan ajar matematika harus dibuat menarik dan menantang. Bahan ajar seperti ini dapat dibuat dengan menyajikan masalah yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari atau dipahami siswa yang disebut masalah kontekstual. Masalah kontekstual yang disusun secara bertahap dan bertingkat memungkinkan siswa aktif belajar matematika karena menarik dan menantang. Aktivitas belajar siswa seperti ini dapat mengembangkan pemahaman siswa tentang manfaat matematika dalam hidupnya (tools of problem solving).

Pengembangan bahan ajar matematika yang menarik dan menantang merupakan suatu kebutuhan untuk mencapai tujuan pembelajaran secara efektif. Pencapaian tujuan pembelajaran baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotor merupakan bagian tak terpisahkan dari kegiatan guru matematika di kelas. Bahan ajar matematika yang kurang mengakomodir berbagai faktor yang harus diperhatikan dalam penyusunan atau pengembangan bahan ajar, seperti belum berpusat pada potensi, perkembangan, kebutuhan, dan kepentingan siswa dan lingkungannya; dan kurang relevan dengan kebutuhan kehidupan khususnya potensi daerah yang sangat beragam dengan berbagai karakteristiknya, hanya akan menambah masalah siswa yang sudah semakin berat dalam mempelajari materi matematika yang semakin padat, luas, dan mendalam. Jika bahan ajar matematika tidak mengakomodir berbagai kebutuhan siswa, maka minat siswa untuk belajar matematika akan berkurang. Jika siswa pesisir tidak mempelajari matematika secara baik, maka materi matematika yang diperolehnya tidak akan bermanfaat dalam kehidupannya sehari-hari. Siswa juga tidak akan maksimal memahami konsep dan prinsip matematika serta penggunaannya dalam memecahkan masalah dan aspek-aspek berpikir matematik tingkat tinggi lainnya. Situasi ini berdampak pada tidak maksimalnya pencapaian tujuan pembelajaran yang ditetapkan.

Uraian di atas menjadi salah satu pendorong dilaksanakannya penelitian ini untuk mengembangkan bahan ajar matematika SMP yang memuat masalah potensi pesisir. Potensi dan permasalahan pesisir tersebut disusun dalam lembar kerja siswa (LKS) untuk melatih kemampuan berpikir matematik siswa, seperti kemampuan pemecahan masalah, representasi, koneksi, dan komunikasi matematik. Hal ini penting dilakukan karena potensi pesisir tersebut terkait dengan kehidupan siswa pesisir sehari-hari sehingga menarik untuk mendorong proses berpikir siswa. Artikel ini disusun dengan tujuan untuk memberikan gambaran tentang latar belakang pengembangan bahan ajar matematika berbasis potensi pesisir; pengertian, peran, prinsip pengembangan, dan Lembar Kerja Siswa (LKS); potensi wilayah pesisir dan permasalahannya; bahan ajar matematika berbasis potensi pesisir; dan manfaat bahan ajar berkonteks pesisir bagi peningkatan kemampuan berpikir matematik.

BAHAN AJAR: PENGERTIAN, PERAN, PRINSIP PENGEMBANGAN, DAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS)

Dalam Tim Pustaka Yustisia (2007: 194) dijelaskan bahwa bahan ajar atau materi pembelajaran (instructional materials) secara garis besar terdiri dari pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang harus dipelajari siswa dalam rangka mencapai standar kompetensi yang telah ditentukan. Sejalan dengan pendapat tersebut, Pannen (1995) menyatakan, bahan ajar adalah bahan-bahan atau materi pelajaran yang disusun secara sistematis, yang digunakan guru dan siswa dalam proses pembelajaran (Belawati, 2004: 1.3). Berdasarkan pengertian tersebut maka segala media pembelajaran yang berisi materi pelajaran dan disusun secara sistematis untuk memperlancar proses pembelajaran dapat disebut sebagai bahan ajar. Untuk menggunakan bahan ajar, harus memperhatikan karateristik siswa, tujuan pembelajaran, dan karakteristik mata pelajaran. Untuk mempermudah penggunaan bahan ajar, maka bahan ajar dilengkapi dengan pedoman untuk siswa dan pedoman untuk guru.

Menurut Belawati (2004: 1.4), peran bahan ajar bagi guru adalah: (1) menghemat waktu guru dalam mengajar; (2) mengubah peran guru dari seorang pengajar menjadi seorang fasilitator; dan (3) meningkatkan proses pembelajaran menjadi lebih efektif dan interaktif. Melalui bahan ajar, guru dapat menciptakan suasana pembelajaran yang bermutu agar siswa aktif berinteraksi dengan bahan ajar, dengan guru, dan dengan siswa lainnya. Aktifitas interaksi ini akan mengembangkan keterampilan sosial siswa.

Interaksi siswa dalam menggunakan bahan ajar terjadi jika siswa telah memiliki pengetahuan sebelumnya tentang materi yang ada dalam bahan ajar tersebut. Hal ini berarti bahwa masalah yang dibuat dalam bahan ajar seharusnya adalah masalah yang dikenal siswa, menarik, dan menantang sehingga mengundang perhatian siswa untuk mempelajarinya. Masalah yang menantang dapat menghilangkan kejenuhan dan membantu siswa mengembangkan potensi yang dimiliki. Ketika siswa memecahkan masalah yang menantang ini, guru harus senantiasa mendampngi siswa dan memberikan scaffolding yang diperlukan. Guru harus mampu mengamati dan menentukan kapan siswa memerlukan bantuan dan kapan siswa membutuhkan kemandirian untuk mengembangkan potensinya.

Sementara itu, menurut Belawaty (2004: 1.5), peran bahan ajar bagi siswa adalah:
(1) siswa dapat belajar tanpa harus ada guru atau teman siswa yang lain;
(2) siswa dapat belajar kapan saja dan di mana saja ia kehendaki;
(3) siswa dapat belajar sesuai dengan kecepatannya sendiri;
(4) siswa dapat belajar menurut urutan yang dipilihnya sendiri; dan
(5) membantu potensi siswa utuk menjadi pelajar mandiri.

Menurut Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) (Tim Pustaka Yustisia, 2007: 195), prinsip-prinsip dalam pemilihan materi pembelajaran meliputi prinsip relevansi, konsistensi, dan kecukupan. Dalam prinsip relevansi, materi pembelajaran hendaknya relevan atau ada kaitan atau ada hubungannya dengan pencapaian standar kompetensi dan kompetensi dasar. Prinsip konsistensi berarti keajegan, yaitu semua kompetensi dasar harus ada dalam bahan ajar. Prinsip kecukupan memiliki arti bahwa materi yang diajarkan hendaknya cukup memadai dalam membantu siswa menguasai kompetensi dasar yang diajarkan.

Untuk memenuhi ketiga prinsip penyusunan bahan ajar di atas maka perlu diperhatikan kriteria dan langkah-langkah penyusunan bahan ajar. Dalam Tim Pustaka Yustisia (2007: 195) disebutkan bahwa, kriteria pokok pemilihan bahan ajar adalah standar kompetensi dan kompetensi dasar. Sedangkan langkah-langkah pemilihan bahan ajar adalah:
(1) mengidentifikasi aspek-aspek yang terdapat dalam standar kompetensi dan kompetensi dasar;
(2) identifikasi jenis-jenis materi pelajaran; dan
(3) memilih jenis materi yang sesuai dengan standar kompetensi dan kompetensi dasar.

Jika prinsip, kriteria, dan langkah-langkah penyusunan bahan ajar tersebut diperhatikan oleh setiap pengembang bahan ajar, maka secara teoretis bahan ajar yang dihasilkan akan sangat membantu guru menghasilkan proses pembelajaran yang efektif. Menurut Eggen & Kauchak (1988: 1), keefektifan pembelajaran terjadi bila siswa secara aktif dilibatkan dalam mengorganisasikan dan menemukan hubungan-hubungan informasi yang diberikan. Siswa tidak sekedar menerima secara pasif pengetahuan yang disampaikan guru tetapi mereka dapat memberi tanggapan secara aktif.

Belawaty (2004: 1.13) mengelompokkan bahan ajar ke dalam tiga kelompok besar, yaitu jenis bahan ajar cetak, non cetak, dan bahan ajar display. LKS merupakan salah satu jenis bahan ajar cetak yang diartikan sebagai:
(1) lembaran-lembaran berisi tugas yang harus dikerjakan oleh siswa;
(2) lembar kegiatan berisi petunjuk, langkah-langkah untuk menyelesaikan suatu tugas; dan atau
(3) tugas-tugas yang diberikan kepada siswa dapat berupa teori dan atau praktik.

Melalui LKS siswa diharapkan dapat belajar matematika secara mandiri. Di dalam LKS siswa mendapatkan materi, ringkasan, dan tugas yang berkaitan dengan materi tersebut. Kemandirian siswa dalam mempelajari materi matematika yang ada dalam LKS tergantung kepada kejelasan petunjuk yang ada dalam LKS.

Menurut Belawaty (2004: 3.23), ada dua faktor yang perlu mendapat perhatian pada saat mendesain LKS, yaitu
(a) tingkat kemampuan membaca dan
(b) pengetahuan siswa.

Hal ini penting karena LKS merupakan bahan ajar yang digunakan siswa secara mandiri. Siswalah yang berperan lebih aktif dalam mempelajari materi. Guru hanya sebagai fasilitator. Jika LKS yang dirancang terlalu sulit, maka akan mempersulit siswa memahami materi matematika yang ada di LKS sehingga menghambat pencapaian tujuan pembelajaran. Untuk itu, Belawaty (2004: 3.23 - 3.24) menyarankan batasan umum yang dapat dijadikan pedoman pada saat menentukan desain LKS, yaitu:
(1) ukuran, gunakan ukuran yang dapat mengakomodasi kebutuhan instruksional yang telah ditetapkan;
(2) kepadatan halaman, usahakan agar halaman tidak terlalu dipadati dengan tulisan; dan
(3) kejelasan, pastikan bahwa materi dan instruksi yang diberikan dalam LKS dapat dengan jelas dibaca siswa.

Di samping memperhatikan langkah-langkah penulisan LKS, guru juga sebaiknya memperhatikan komponen LKS sebagai bahan ajar. Komponen LKS dimaksud adalah hal-hal apa saja yang seharusnya ada dalam LKS yang disusunnya. Secara umum, LKS memuat hal-hal:
(1) Judul, mata pelajaran, semester, SK, KD, indikator, tempat;
(2) Petunjuk belajar (petunjuk siswa /guru);
(3) Tujuan yang akan dicapai;
(4) Indikator;
(5) Informasi pendukung;
(6) Latihan-latihan dan petunjuk kerja; dan
(7) Penilaian.

Meskipun demikian, terkadang tidak semua komponen ini harus ada dalam LKS, karena adanya RPP sebagai pelengkap teknik penggunaannya.

POTENSI WILAYAH PESISIR DAN PERMASALAHANNYA

Menurut Dahuri et al. (1998), hingga saat ini masih belum ada definisi wilayah pesisir yang baku. Namun demikian, terdapat kesepakatan umum di dunia bahwa wilayah pesisir adalah suatu wilayah peralihan antara daratan dan lautan (Kadir et al., 2009: 2). Apabila ditinjau dari garis pantai (coast line), maka wilayah pesisir mempunyai dua macam batas (boundaries), yaitu batas yang sejajar garis pantai (long shore) dan batas yang tegak lurus garis pantai (cross shore). Pengertian tersebut mengindikasikan terjadinya interaksi antar ekosistem perairan pesisir sehingga memunculkan kekayaan potensi habitat pesisir yang beragam. Namun demikian, kondisi hidup habitat pesisir seperti ini berpotensi mudah mengalami kerusakan akibat kegiatan masyarakat yang tidak bertanggung jawab. Masyarakat yang tinggal pada wilayah pesisir dan pulau-pulau kecil disebut masyarakat pesisir. Masyarakat pesisir dimaksud adalah nelayan, pembudidaya, pemasar ikan, pengolah hasil laut, dan masyarakat pesisir lainnya yang menggantungkan kehidupannya dari sumber daya kelautan dan perikanan.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2001), potensi diartikan sebagai segala sesuatu yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan. Berdasarkan pengertian tersebut, maka potensi pesisir dapat diartikan sebagai segala sumberdaya alam dan manusia pesisir yang mempunyai kemungkinan untuk dikembangkan bagi kesejahteraan hidup masyarakat pesisir.

Salah satu potensi pembangunan wilayah pesisir adalah sumberdaya dapat pulih (renewable resources) sebagaimana pendapat Dahuri et al. (2001). Sumberdaya dapat pulih adalah sumberdaya yang dapat dikembangkan atau dilestarikan, seperti hutan mangrove (bakau), terumbu karang, rumput laut, dan sumberdaya perikanan laut (Latama, et al., 2002; Kadir, et al., 2009: 3). Seperti wilayah lain, pemanfaatan sumberdaya pesisir dapat pulih dalam pembangunan wilayah pesisir tersebut juga tidak luput dari masalah. Secara garis besar, gejala kerusakan lingkungan yang mengancam kelestarian sumberdaya pesisir dan lautan di Indonesia meliputi: pencemaran, degradasi fisik habitat, over-eksploitasi sumber daya alam, abrasi pantai, konversi kawasan lindung menjadi peruntukan pembangunan lainnya, dan bencana alam (Departemen K dan P, 2009; Kadir et al.,2009: 3). Keberadaan masalah tersebut menyebabkan potensi wilayah pesisir tidak dapat digunakan sesuai dengan mutu dan fungsinya untuk kesejahteraan masyarakat khususnya masyarakat pesisir. Berdasarkan gambaran Poverty Headcount Index, 32 % masyarakat pesisir tergolong miskin. Dari data penduduk, sebanyak 16.420.000 jiwa masyarakat Indonesia hidup di 8.090 desa pesisir, sebagian masih tergolong miskin (Majalah Demersial, 2007; Kadir et al., 2009: 3).

Potensi pesisir yang beragam penting digunakan pada kelas-kelas matematika. Keberagaman sumberdaya alam dan kultur seperti potensi pesisir, agama, adat istiadat, tata cara, bahasa, kesenian, kerajinan, keterampilan, letak geografis, dan lain-lain secara langsung atau tidak langsung terbawa oleh setiap siswa ke dalam kelas matematika dan turut mewarnai interaksi antar siswa. Kebijakan pemerintah yang berupaya mendorong masuknya program muatan lokal dalam Standar Isi merupakan suatu upaya positif untuk menjaga kelestarian potensi sumberdaya tersebut dan perlu implementasi ke mata pelajaran lain. Dalam Tim Pustaka Yustisia (2007: 179) disebutkan bahwa Standar Isi yang seluruhnya disusun secara terpusat tidak mungkin dapat mencakup muatan lokal tersebut. Sehingga perlu disusun mata pelajaran yang berbasis muatan lokal misalnya matematika yang selama ini belum tersentuh.

Menurut Adam (2004: 49), ruang kelas merupakan bagian dari suatu komunitas yang mendefinisikan praktek budaya. Ketika siswa memasuki sebuah sekolah, mereka membawa berbagai nilai, norma, dan konsep yang merupakan bagian dari perkembangan mereka. Menurut Bishop (1994), beberapa di antara yang mereka bawa itu adalah matematika (Adam, 2004: 49). Adam melanjutkan, namun demikian, konsep matematik dari kurikulum sekolah disajikan dalam suatu cara yang tidak berkaitan dengan budaya matematika siswa. Padahal aspek budaya memberi kontribusi penting untuk meningkatkan kemampuan matematika siswa di kelas. Pendapat ini sejalan dengan pendapat Bishop (1988), Boaler (1993), dan Zavlasky (1991, 1996), bahwa aspek budaya berkontribusi untuk mengenal matematika sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari, mengembangkan kemampuan koneksi secara bermakna, dan memperdalam pemahaman matematika (Adam, 2004: 49).

Uraian di atas mengindikasikan pentingnya pemanfaatan potensi lokal dalam pengembangan kurikulum di kelas matematika agar siswa dapat bergerak dari suatu keterbelengguan konsep matematika ke pemahaman yang lebih dalam terhadap konsep itu dan penerapannya dalam dunia nyata. Kurikulum seperti ini tepat digunakan pada siswa pesisir agar mereka lebih mendapatkan manfaat pentingnya mempelajari matematika dan penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

BAHAN AJAR MATEMATIKA BERBASIS POTENSI PESISIR

Bahan ajar matematika SMP yang dikembangkan dalam penelitian ini merujuk pada Standar Isi matematika sesuai KTSP. Bahan ajar dimaksud adalah bahan ajar untuk materi Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV) yang diajarkan pada semester ganjil kelas VIII SMP. Dalam KTSP disebutkan bahwa Standar Kompetensi dari SPLDV adalah Memahami SPLDV dan menggunakanya dalam pemecahan masalah. Sementara Kompetensi Dasarnya adalah: menyelesaikan model matematika dari masalah yang berkaitan dengan sistem persamaan linear dua variabel dan penafsirannya.

Dalam penggunaannya, guru mengarahkan siswa untuk menyelesaikan masalah kontekstual yang ada pada setiap bahan ajar (tujuh LKS). Pada LKS 2 Bahan ajar dimaksud dimulai dengan penyajian masalah kontekstual berbasis potensi pesisir sebagai berikut.

La Baco mempunyai 60 ekor kaumbai untuk dijual di pasar. Kaumbainya dijual dalam dua susunan harga.

Susunan pertama                                   Susunan kedua
Rp. 1.500,00                                          Rp. 2.100,00

Keterangan:
Kaumbai Jenis I                                     Kaumbai Jenis II

Hasil penjualan kedua jenis kaumbai La Baco pada siang hari sebesar Rp. 25.500,00. Apakah semua kaumbai yang diperolehnya sudah terjual? Bagaimanakah cara La Baco mengetahui jumlah masing-masing jenis kaumbai yang terjual?

Masalah penjualan kedua jenis kaumbai di atas adalah salah satu masalah sehari-hari yang dapat dimodelkan ke dalam bentuk sistem persamaan linear dua variabel (SPLDV).

Ikutilah petunjuk-petunjuk berikut untuk menjawab masalah di atas!

Misalkan harga kaumbai jenis I adalah x dan harga kaumbai jenis II adalah y.

Tulislah persamaan matematika dalam x dan y untuk susunan pertama!
Tentukanlah minimal tiga pasang nilai x dan y yang memenuhi persamaan yang kamu buat pada pertanyaan nomor
1. Tulislah persamaan matematika dalam x dan y untuk susunan kedua!
2. Tentukanlah minimal tiga pasang nilai x dan y yang memenuhi persamaan yang kamu buat pada pertanyaan nomor 3.  Jika kamu mengerjakan no. 2 dan no. 4 dengan benar, maka kamu akan menemukan satu pasangan nilai yang sama. Tuliskan pasangan nilai tersebut!

Pasangan nilai x dan y tersebut memenuhi PLDV pada no. 1 dan no. 3 sehingga disebut jawaban atau solusi dari kedua PLDV tersebut.

Gunakanlah pasangan nilai x dan y yang kamu peroleh tersebut untuk menghitung harga yang harus dibayarkan Wa Ani ketika membeli 3 kaumbai jenis I dan 3 kaumbai jenis II. Berapakah harga yang harus dibayarkan Wa Ani tersebut? Tuliskan bagaimana kamu memperolehnya!

Jika harga penjualan sampai siang hari adalah Rp. 25.500,-, berapa banyakkah masing-masing jenis kaumbai yang telah dijualnya? Tuliskan bagaimana kamu memperolehnya!

Jika total hasil penjualan seluruh kaumbai La Baco adalah Rp. 30.750,00, berapa banyakkah masing-masing jenis kaumbai yang diperolehnya? Tuliskan bagaimana kamu memperolehnya!

Pada akhir LKS tersebut disajikan latihan soal untuk dikerjakan di kelas atau di rumah. Salah satu dari lima soal latihan tersebut adalah: Ayah La Baco adalah seorang nelayan. Pada suatu hari ayahnya pulang dari melaut dan membawa sekeranjang ikan lajang sebanyak 180 ekor dan ikan landou sebanyak 120 ekor. Kedua jenis ikan tersebut dijualnya ke pasar secara eceran dengan dua pilihan.

Pilihan I: Harga satu tempat ikan yang terdiri dari 6 ekor ikan lajang dan 4 ekor ikan landou adalah Rp. 20.000,-.
Pilihan II: Harga satu tempat ikan yang terdiri dari 4 ekor ikan lajang dan 6 ekor ikan landou adalah Rp. 17.500,-.

Jika seorang ibu hendak membeli 40 ekor lajang dan 15 ekor ikan landou, berapakah uang yang harus dibayarkannya? Selesaikanlah masalah ini dengan terlebih dahulu membuat persamaan matematikanya.

Berapakah total harga seluruh ikan ayah La Baco?

LKS tersebut diterapkan dengan menggunakan pembelajaran berbasis masalah (problem-based learning), seperti CTL dan pembelajaran open ended, dan pembelajaran pemecahan masalah. Pembelajaran seperti ini telah berkembang dengan berbagai variasi berdasarkan teori yang diadopsi dan kemampuan matematik yang hendak ditingkatkan.


MANFAAT BAHAN AJAR BERKONTEKS PESISIR BAGI PENINGKATAN
KEMAMPUAN BERPIKIR MATEMATIK

Nilai-nilai matematika dan pentingnya pemahaman terhadap masalah pesisir sangat ditekankan oleh LKS di atas. Hal ini diupayakan agar siswa dapat dilatih melalui kegiatan pemecahan masalah pesisir dan berkomunikasi matematik secara interaktif terkait masalah yang diberikan baik secara verbal maupun secara non verbal dengan menggunakan simbol atau bahasa matematika. Kegiatan seperti ini dapat melibatkan siswa ke dalam suatu pembelajaran matematika yang bermakna sehingga dapat melatih siswa menjadi pemecah masalah dan mampu berkomunikasi matematik dengan baik.

Pemecahan masalah dan komunikasi matematik merupakan dua dari lima standar proses yang dikemukakan the National Council of Teachers of Mathematics (NCTM), selain penalaran dan bukti, koneksi, dan representasi matematik. Pemecahan masalah merupakan tipe belajar yang paling kompleks (Gagne dalam Ruseffendi, 2006: 166) dan merupakan fokus sentral dari kurikulum matematika (NCTM, 1989 dalam Kirkley, 2003: 1). Kemampuan siswa mengkomunikasikan ide-ide matematiknya ketika memecahkan masalah atau ketika menyampaikan proses dan hasil pemecahan masalah juga merupakan kemampuan yang dapat mengembangkan kemampuan berpikir matematik tingkat tinggi siswa seperti logis, analitis, sistematis, kritis, kreatif, dan produktif. Proses pembelajaran matematika yang memfasilitasi pengembangan kedua kemampuan ini dapat melatih siswa mengembangkan potensi berpikirnya secara maksimal.

Dalam pemecahan masalah matematik terbentuk juga kemampuan matematika lainnya seperti penalaran dan bukti, koneksi matematik, komunikasi matematik, dan representasi matematik. Hal ini dapat diketahui ketika siswa menyelesaikan soal non rutin, misalnya dalam bentuk soal cerita (world problem). Untuk dapat menyelesaikan soal ini, siswa terlebih dahulu harus dapat memahami masalah yang ditunjukkan dengan menyusun persamaan atau model matematika (representasi dan komunikasi matematik). Model ideal yang terbentuk kemudian diselesaikan dengan menggunakan prosedur matematika dan mengaitkan antar konsep matematika yang ada (koneksi matematik). Kemampuan siswa menganalisis ketersediaan informasi atau data dari masalah non rutin yang diberikan untuk menghasilkan kesimpulan yang strategis dalam menyelesaikan masalah tersebut merupakan kemampuan penalaran. Solusi dari masalah non rutin yang diperoleh hanya dapat dipahami secara baik oleh orang lain jika dapat dikomunikasikan secara baik pula, baik dengan bahasa matematika maupun penjelasan verbal. Ilustrasi ini memperjelas posisi pemecahan masalah sebagai sentral pembelajaran matematika.

Dalam KTSP disebutkan bahwa kemampuan pemecahan masalah dan komunikasi merupakan dua kemampuan yang harus diupayakan dalam pembelajaran matematika SMP/MTs. Beberapa butir dari Standar Kompetensi Lulusan (SKL) Satuan Pendidikan SMP adalah: menunjukkan kemampuan menganalisis dan memecahkan masalah dalam kehidupan sehari-hari; berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dan santun; dan menghargai adanya perbedaan pendapat (Tim Pustaka Yustisia, 2007: 87). Pembelajaran seperti ini dapat mengurangi angka siswa putus sekolah di daerah pesisir.

Berdasarkan data Depdiknas tahun 2002, di tingkat nasional, angka putus sekolah SMP/MTs tahun 2001/2002 sebesar 3,50 persen. Data tersebut juga mengungkapkan bahwa anak usia 13-15 tahun yang belum mendapatkan pelayanan pendidikan SMP/MTs masih cukup tinggi (25,66 persen). Beberapa faktor penyebabnya antara lain adalah: (1) daerah tempat tinggal mereka yang masih terisolasi; (2) alasan ekonomi; (3) budaya masyarakat yang belum mengganggap pentingnya pendidikan; dan (4) mereka sudah bekerja mencari nafkah. Jika dilihat dari keempat faktor tersebut, maka daerah pesisir termasuk daerah yang memenuhi kesemua faktor di atas. Oleh karena itu, penting untuk mengembangkan bahan ajar berbasis potensi pesisir yang bermanfaat bagi kehidupan siswa sehari-hari.

 

PENUTUP

Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan dapat disimpulkan bahwa untuk meningkatkan kemampuan berpikir matematik siswa perlu dikembangkan bahan ajar yang menarik dan menantang. Bagi siswa pesisir, bahan ajar tersebut dapat dikembangkan berdasarkan potensi pesisir yang melimpah dan kini telah mengalami kerusakan dengan laju yang memprihatinkan. Di samping dapat meningkatkan kemampuan berpikir matematik tingkat tinggi siswa, seperti pemecahan masalah, komunikasi matematik, koneksi matematik, dan representasi matematik, bahan ajar berbasis potensi pesisir dapat memberikan bekal pengetahuan kepada siswa tentang keadaan berbagai potensi pesisir tersebut sehingga mereka dapat mengenal dan menyadari pentingnya pemanfaatan dan pengelolaannya secara bertanggungjawab sehingga muncul kesadaran untuk menjaga, melestarikan, dan mengembangkannya untuk kelangsungan hidup ke depan yang lebih baik.

 

DAFTAR PUSTAKA
  • Adam, S. (2004). Ethnomathematics Ideas in The Curriculum. Mathematics Education Research Journal, 200, Vol. 16, No. 2, 49 – 68.
  • Baroody, A. J. (1993). Problem Solving, Reasoning, and Communicating, K-8: Helping Children Think Mathematically. New York: MacMillan Publishing Company.
  • Becker, J.P. & Shimada, S. (1997). The Open-Ended Approach: A New Proposal forTeaching Mathematics. Reston, VA: NCTM.
  • Belawati,T. dkk. (2004). Pengembangan Bahan Ajar. Edisi Kesatu. Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas Terbuka.
  • Brenner, M. E. (1998). Development of Mathematical Communication in Problem Solving Groups by Language Minority Students. Bilingual Research Journal, 22:2, 3, & 4 Spring, Summer, & Fall. [Online]. Tersedia: Http://www. criced.tsukuba.ac.jp/math/apec/.../7.Madinah_Khalid_Brunei.pdf. [11 Juni 2008]
  • Dahuri, R. et al. (1998). Penyusunan Konsep Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Kelautan yang Berakar dari Masyarakat. Kerjasama Ditjen Bangda dengan Pusat Kajian Sumberdaya Pesisir dan Kelautan, IPB. Laporan Akhir.
  • Dahuri R. et al. (2001). Pengelolaan Sumberdaya Wilayah Pesisir dan Lautan Secara Terpadu. Jakarta: Pradnya Paramita.
  • Departemen Kelautan dan Perikanan. (2009). Potensi dan Permasalahan Pembangunan Wilayah Pesisir dan Lautan (Bag II). Jakarta: Dirjen Kelautan, Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil.
  • Kirkley, J. (2003). Principles for Teaching Problem Solving. Technical Paper #4. Indiana University: Plato Learning Inc.
  • Latama, G. et al. (2002). Pengelolaan Wilayah Pesisir Berbasis Masyarakat di Indonesia. [Online]. Tersedia: http://tumoutou.net/702_05123/group2_ 123.htm [19 Mei 2008]
  • Lester, F. K. (1980). Research on Mathematical Problem Solving. (pp. 286 – 323). Reston Virginia: National Council of Teacher of Mathematics.

Posting oleh Dr. Kadir, S.Pd., M.Si. 3 tahun yang lalu - Dibaca 20329 kali

 
Tag : #potensi pendidikan #wilayah #pesisir

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Selasa, 21/11/2017 08:27:29
Guru SD Diajak Aktf Menulis Karya Ilmiah

KOMPAS.com - Pemerintah mendorong para guru pendidikan dasar untuk giat menulis karya ilmiah untuk menyebarkan ide,...

Jum'at, 10/11/2017 18:27:46
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak

Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak Kamis, 09 Nov 2017 13:05 | editor : Dzikri Abdi...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
4 tahun yang lalu - dibaca 45434 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
4 tahun yang lalu - dibaca 35449 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
4 tahun yang lalu - dibaca 48988 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
4 tahun yang lalu - dibaca 38044 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
2 tahun yang lalu - dibaca 32616 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
2 tahun yang lalu - dibaca 39221 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
4 tahun yang lalu - dibaca 35665 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
4 tahun yang lalu - dibaca 24319 kali
Info MBS
Guru SD Diajak Aktf Menulis Karya Ilmiah
Guru SD Diajak Aktf Menulis Karya Ilmiah
22 jam yang lalu - dibaca 3 kali
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
Budaya Literasi dan Karater Mulai Nampak
2 minggu yang lalu - dibaca 41 kali
Jembatani Kompetensi Siswa dengan Kebutuhan Pelaku Dunia Usaha
Jembatani Kompetensi Siswa dengan...
4 minggu yang lalu - dibaca 135 kali
Pendidikan Informal untuk Penguatan Pembelajaran di Daerah Tertinggal
Pendidikan Informal untuk Penguatan...
1 bulan yang lalu - dibaca 309 kali
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak Perbatasan
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak...
2 bulan yang lalu - dibaca 328 kali
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik Mengajar Realistik
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik...
2 bulan yang lalu - dibaca 431 kali
Permen tentang Penguatan Pendidikan Karakter Disiapkan dalam Sepekan
Permen tentang Penguatan Pendidikan...
2 bulan yang lalu - dibaca 715 kali
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM...
2 bulan yang lalu - dibaca 870 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2017 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.63 Mb - Loading : 2.18405 seconds