Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Manajemen Berbasis Sekolah

Selasa, 17/03/2020 08:50:27

Manajemen Berbasis Sekolah

 Kurikulum dalam sistem pendidikan kita masih menjadikan sekolahsebagai objek pendidikan.

Sekolah belum sepenuhnya otonom dalam menjalankan pendidikan. Hal ini dapat kita lihat
dalam struktur kurikulum itu sendiri yang belum sepenuhnya menjadikan sekolah sebagai subjek
pendidikan.

Sebagai contoh, dalam struktur kurikulum, jabaran kompetensi dasar masih ditentukan oleh
lembaga pendidikan pusat. Sekolah dituntut untuk mengikuti ketentuan sebagaimana tercantum
dalam kurikulum.

Benar bahwa dalam arah kebijakan kurikulum saat ini, sekolah diminta untuk menjabarkan
kompetensi dasar dalam bentuk materi yang disesuaikan dengan kebutuhan dan keadaan
lingkungan institusi pendidikan sekolah. Persoalannya, konsep ini belum terlaksana dengan baik
sampai ke proses pembelajaran di sekolah.

Ada beberapa alasan yang menyebabkan hal ini terjadi. Pertama, tidak semua guru
berkompeten dalam mejabarkan kompetensi dasar dalam bentuk indikator sampai pada
pengembangan materi pembelajaran yang relevan dengan kondisi masyarakat lokal.
Kedua, justru ketika lembaga pendidikan atau guru diminta untuk mengembangkan materi yang
relevan, beban tugas guru dalam membuat administrasi terlalu menumpuk.

 

 

 

Ketiga, imbas dari terpusatnya penyusunan kompetensi dasar adalah masih berlakunya ujian
nasional yang (materinya) ditentukan oleh dinas pendidikan (pusat). Hal ini tidaklah heran karena
memang materi penjabaran kompetensi dasar itu berawal dari lembaga pusat. Untuk menjaga mutu
pendidikan, maka harus ada ujian nasional yang terpusat.
Keempat, sekolah-sekolah masih mengejar prestasi mencapai ilmu pengetahuan sebanyakbanyaknya.
Sekolah-sekolah yang mengejar prestasi tidak mungkin mengabaikan tuntutan dinas
pendidikan dan kementerian pendidikan.

Lantas, proses pembelajaran (membentuk pengetahuan) berubah total menjadi pengajaran
(memberi tahu pengetahuan). Padahal kita memahami bahwa sekolah adalah lembaga pendidikan
dengan kegiatan utamanya adalah pembelajaran yang sejatinya merupakan kegiatan menjadikan
peserta didik tahu bagaimana belajar (learning how to learn).

Otonomi Pendidikan


Pendidikan formal (sekolah) merupakan upaya pemajuan bangsa. Karena itu, pendidikan harus
berdaya memajukan insan-insan pendidikan. Kemajuan bangsa Indonesia sangat ditentukan oleh
kemajuan setiap masyarakat daerah. Karena itu pula, masyarakat yang cerdas harus tersebar merata
di setiap daerah, bukan terkonsentrasi di ibukota.
Untuk memajukan masyarakat daerah, seyogianya pendidikan terlaksana secara otonom. Peran
pusat lebih kepada ulur tangan, dan bukannya campur tangan.
Mengapa demikian? Masyarakat daerah lebih memahami persoalan daerahnya. Hanya masyarakat
di daerahlah yang bisa memahami secara betul kebutuhan konkret dalam rangka memajukan
masyarakat daerahnya. Setiap daerah diberi kewenangan untuk mengembangkan potensi-potensi
daerah di bawah kontrol ketat pemerintah pusat.
Konsep otonomi pendidikan sebenarnya sudah terkandung dalam konsep pengembangan
manajemen berbasis sekolah. Manajemen berbasis sekolah merupakan upaya menjadikan sekolah
sebagai institusi pendidikan yang otonom dalam meningkatkan mutu pendidikan dan mencapai
tujuan pendidikan nasional. Manajemen berbasis sekolah juga menjadikan sekolah sebagai subjek
pendidikan yang aktif mengembangkan potensi-potensi lokal yang menjadi kebutuhan masyarakat
setempat.
Suparlan Soehartono, dalam buku Pemberdayaan Pendidikan Sekolah (2011) mengartikan
manajemen berbasis sekolah sebagai "konsep pemberdayaan sistem pendidikian desentralistik
menuju otonomi pendidikan sekolah dalam rangka peningkatan mutu pendidikan." Manajemen
berbasis sekolah mendorong para kepala sekolah, guru, dan tenaga pendidik, serta masyarakat lokal
untuk mengelola pendidikan dan pembelajaran sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal dalam
kerangka nasional dan global.
Konsekuensi logis dari penerapan manajemen berbasis sekolah adalah kebutuhan akan
profesionalitas tenaga pendidik, team work yang kuat, desentralisasi pendidikan (dari daerah ke
nasional), dan perubahan sistem ujian sekolah dan nasional, serta peningkatan kualitas
pembelajaran melalui partisipasi masyarakat.
Beban dan tugas pendidik di satuan pendidikan dapat dikurangi dengan meningkatkan
profesionalitas tenaga pendidik dan penguatan team work dengan cara mengaktifkan forum kiat
guru pembelajar. Hal ini dimaksudkan agar kelompok-kelompok belajar para guru dapat menyusun
administrasi pendidikan secara bersama agar sama dan sistematis di zona tertentu.
Dengan demikian, sekolah tidak sibuk menjabarkan kompetensi dasar dalam bentuk materi-materi
pembelajaran. Konsep ini dikembangkan dengan pengawalan ketat oleh tim yang berintegritas dan
berjenjang mulai dari pengawas di tingkat kecamatan, kabupaten, provinsi, dan nasional.
Kemudian, sekolah wajib menyiapkan materi ujian berstandar nasional. Peran dinas pendidikan dan
masyarakat adalah partner para guru sebagai penguji dalam memberikan ujian kepada peserta
didik. Materi ujian pun tidak hanya berupa kertas tetapi terutama berorientasi pada unjuk kerja, 
pelaporan hasil kerja, praktik, pengamatan atau eksperimen. Jika ada koordinasi yang baik antara
pengawas pendidikan dengan dinas pendidikan, maka mutu pendidikan secara nasional tetap
terjaga.
Melalui manajemen berbasis sekolah, sekolah diharapkan berjalan tanpa ada tekanan dan menyatu
dengan masyarakat lokal. Ketika sekolah berjalan tanpa ada tekanan, sekolah dapat memainkan
peran penting sebagai ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, dan tut wuri handayani.
Totalitas otonomi pendidikan sekolah mengedepankan pengembangan potensi lokal menuju
kemajuan bangsa. Spirit Ki Hadjar Dewantara adalah spirit keadilan dalam dunia pendidikan.


Dinamika Penerapan

Dalam penerapan manajemen berbasis sekolah, perlu memperhatikan tiga hal berikut.
Pertama, konsep manajemen berbasis sekolah tidak menjadikan sekolah seumpama "kuda liar"
tanpa kontrol. Sekolah adalah subsistem dari lembaga pemerintahan urusan pendidikan. Karena
sekolah berada dalam sistem pendidikan nasional, maka diperlukan aturan yang jelas dan batas
ruang gerak sekolah dalam pengembangan mutu pendidikan.
Sekolah tetap berjalan dalam rel sistem pendidikan nasional tanpa mengabaikan upaya dan
perannya sebagai lembaga yang otonom dalam peningkatan mutu pendidikan.
Kedua, sekolah harus terbuka menerima masukan dari berbagai pihak terkait terutama masyarakat
sebagai bahan pengembangan kompetensi dasar dan materi pembelajaran. Sekolah harus mampu
membuka diri dan berdialog dengan masyarakat untuk menemukan konsep riil dan kebutuhan
urgen yang ada dalam masyarakat.
Sekolah juga perlu hati-hati dalam menerima input dari masyarakat yang heterogen. Setiap
masukan yang ada harus disaring berdasarkan tujuan pendidikan nasional, keselarasan dengan
Pancasila, dan mengedepankan prinsip keadilan bagi semua.
Ketiga, manajemen berbasis sekolah membutuhkan team work. Sekolah tidak boleh berdiri sendiri.
Hubungan sekolah dengan berbagai pihak terkait merupakan hubungan yang setara, tanpa ada
komando yang melumpuhkan ruang gerak sekolah. Hubungan sekolah dan dinas pendidikan
beserta pengawas pendidikan merupakan kawan seperjuangan yang berjalan bersama menuju
pencapaian mutu pendidikan.
Dinas pendidikan dan pengawas pendidikan bukan semata-mata sebagai pengecek keberlangsungan
kinerja sekolah melainkan juga lebih sebagai fasilitator dan konsultan. Pada taraf selanjutnya, dinas
pendidikan harus memandang sekolah sebagai institusi yang harus dihormati dan subjek pemajuan
pendidikan. Sekolah mesti bertakhta sekaligus menjadi mahkota dari dinas pendidikan serta
kementerian pendidikan dan kebudayaan pada tataran nasional.

*Opini ini dimuat di Harian Umum Flores POS pada tanggal 22 September 2019

sumber (https://www.kompasiana.com/undusjuru/5dc8da47097f3661b37caa52/manajemen-berbasis-sekolah\)

Posting oleh Desi Eri K 2 minggu yang lalu - Dibaca 34 kali

 
Tag : #MBS #potensilokal #PSM

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Selasa, 24/03/2020 09:46:07
Wahai Para Guru, Jangan Berikan Tugas yang Membebani Psikis Anak Didik

Anggota Komisi X FPKB DPR RI Hj Lathifah Shohib mengkritisi realisasi kebijakan proses belajar di rumah. Ia menilai...

Selasa, 17/03/2020 08:50:27
Manajemen Berbasis Sekolah

Manajemen Berbasis Sekolah  Kurikulum dalam sistem pendidikan kita masih menjadikan sekolahsebagai objek...

7 Pilar MBS
MBS portal
Tujuh Pilar Manajemen Berbasis Sekolah
  Tujuh pilar MBS yaitu kurikulum dan pembelajaran, peserta didik pendidik dan tenaga kependidikan, sarana dan prasarana, pembiayaan, hubungan sekolah dan masyarakat, dan budaya dan lingkungan sekolah. Manajemen kurikulum dan pembelajaran berbasis sekolah adalah pengaturan kurikulum dan...
Informasi Terbaru
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Paket Pelatihan 3
Paket Pelatihan 3
6 tahun yang lalu - dibaca 71154 kali
Paket Pelatihan 2
Paket Pelatihan 2
6 tahun yang lalu - dibaca 53510 kali
Paket Pelatihan 1
Paket Pelatihan 1
6 tahun yang lalu - dibaca 79477 kali
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
Berbagi Pengalaman Praktik yang Baik
6 tahun yang lalu - dibaca 59190 kali
MODUL 6 UNIT 3
MODUL 6 UNIT 3
4 tahun yang lalu - dibaca 57146 kali
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
Modul Pelatihan 6: Praktik Yang Baik
4 tahun yang lalu - dibaca 66714 kali
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator Renstra
Panduan Lokakarya Bagi Fasilitator...
6 tahun yang lalu - dibaca 58042 kali
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan Pendidikan
Praktik Yang Baik: Modul Keuangan...
6 tahun yang lalu - dibaca 42601 kali
Info MBS
3 Inspirasi Manajemen Berbasis Sekolah...
3 minggu yang lalu - dibaca 90 kali
Mendikbud Tetapkan Empat Pokok...
3 bulan yang lalu - dibaca 820 kali
PPDB 2019 SMP Sistem Zonasi, Nilai USBN...
10 bulan yang lalu - dibaca 4296 kali
Penghapusan Ujian Nasional Tak Otomatis...
1 tahun yang lalu - dibaca 4829 kali
Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas Biaya Pendidikan  Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul
Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas...
1 tahun yang lalu - dibaca 4247 kali
APBN 2019, Anggaran Pendidikan Rp 492 Triliun, Terbesar untuk Agama
APBN 2019, Anggaran Pendidikan Rp 492...
1 tahun yang lalu - dibaca 7108 kali
Asah Bakat Sejak Dini, Anak Tumbuh Jadi Remaja Hebat
Asah Bakat Sejak Dini, Anak Tumbuh Jadi...
1 tahun yang lalu - dibaca 5672 kali
"Bersiaplah... Pendaftaran SNMPTN...
2 tahun yang lalu - dibaca 7192 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2020 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.55 Mb - Loading : 7.15251 seconds