Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing

Kamis, 07/09/2017 11:47:52

15gambaar.jpg


rkan program prioritas tersebut dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9) di kantor Kominfo, Rabu (30/8/2017).(KURNIASIH BUDI/ KOMPAS.com)

 


KOMPAS.com -Pemerintah menegaskan pemerataan pendidikan dibutuhkan untuk membentuk sumber daya manusia berkarakter dan berdaya saing. Untuk itu, pemerintah menggenjot kualitas pendidikan dan pelatihan melalui Program Indonesia Pintar (PIP).

Deputi Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Kemenko PMK) Agus Sartono menegaskan pentingnya peningkatan pemerataan layanan pendidikan, peningkatan mutu, relevansi, dan daya saing, serta penguatan tata kelola pendidikan dan kebudayaan.

Lebih dari 17 juta Kartu Indonesia Pintar (KIP) dalam proses penyaluran kepada anak-anak  keluarga tidak mampu. Tujuannya, anak-anak tersebut bisa memperoleh akses pendidikan, baik formal maupun non-formal.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan, pemerintah mengalokasikan anggaran sebesar Rp 9.344,2 miliar untuk program PIP.

Baca: 2,9 Juta Anak Belum Terjangkau KIP

Menurut dia, dana tersebut termasuk dalam nilai program dan manajemen penyaluran KIP untuk siswa SD, SMP, SMA, dan SMK tahun anggaran 2018.

Data anak-anak penerima PIP yang memiliki rentang usia 6 tahun hingga 21 tahun diperoleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan berdasarkan pendataan Kementerian Sosial untuk penerima Program Keluarga Harapan (PKH) dan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS).

Berdasarkan laporan pelaksanaan PIP per 16 Agustus 2017, dana PIP ditujukan pada 17.927.308 anak. Hingga kini, dana untuk 8,8 juta anak atau 47 persen dari total target penerima dana PIP telah disalurkan.

"Sebanyak 25,03 persen telah dicairkan oleh 2.091.961 siswa yang berhak," kata Muhadjir dalam diskusi media Forum Merdeka Barat 9 (FMB9), di ruang Roeslan Abdulgani, kantor Kementerian Komunikasi dan Informasi, Rabu (30/8/2017).

 

 

Deputi Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono menegaskan pemerataan pendidikan dibutuhkan untuk membentuk sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing di tingkat internasional.
Deputi Koordinasi Pendidikan dan Agama, Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Agus Sartono menegaskan pemerataan pendidikan dibutuhkan untuk membentuk sumber daya manusia yang berkarakter dan berdaya saing di tingkat internasional.(KURNIASIH BUDI/ KOMPAS.com)

 

Pemerintah juga memiliki strategi lain demi meningkatkan kualitas pendidikan di tanah air. Dari besaran anggaran fungsi pendidikan dalam RAPBN 2018 yang mencapai Rp 440,9 triliun, alokasi dibagi atas dana pusat Rp146,6 triliun, transfer daerah Rp 279,3 triliun, dan pembiayaan Rp 15 triliun.

Dari total belanja pusat anggaran fungsi pendidikan, 9,1 persen di antaranya merupakan anggaran Kemendikbud atau sebesar Rp 40,09 triliun.

Pemerintah pusat menggunakan anggaran sebesar Rp7,663,6 miliar untuk meningkatkan dan menjamin mutu pendidikan. Di antaranya akreditasi sekolah, laboratorium dan ruang praktik, perpustakaan, usaha kesehatan sekolah (UKS), peralatan pendidikan, dan pengembangan karakter.

Selain itu, sebesar Rp3,497,6 miliar untuk peningkatan akses pendidikan, berupa rehabilitasi, pembangunan USB dan RKB, dan revitalisasi. Lalu, penguatan vokasi dialokasikan senilai Rp1,791,1 miliar serta penguatan substansi pendidikan dan kebudayaan sebesar Rp 475,2 miliar.

Pemerintah juga memiliki target prioritas. Di antaranya, pada 2018 KIP menjangkau 17.927.308 anak, sertifikasi 25 ribu guru, pembangunan 73 unit sekolah baru, pembangunan 4,904 ruang kelas baru, dan rehabilitasi 21.287 ruang kelas.

Revitalisasi peran keluarga

Keluarga merupakan komunitas pertama dan utama dalam pendidikan seorang anak. Penerusan nilai-nilai dan kebiasaan baik dilakukan pertama kali di dalam keluarga. Orangtua berperan penting mendidik anak-anak di dalam keluarga.

Sayangnya, kata Muhadjir, orangtua saat ini pada umumnya tidak memiliki banyak waktu untuk mendidik anak. Fenomena orangtua bekerja di kota-kota besar membuat anak seakan-akan dititipkan proses pendidikannya pada sekolah.

 

Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana mengadakan eduparenting bagi orangtua di setiap awal tahun ajaran baru.
Keluarga merupakan lingkungan pendidikan pertama dan utama bagi anak. Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan berencana mengadakan eduparenting bagi orangtua di setiap awal tahun ajaran baru.(KURNIASIH BUDI/ KOMPAS.com)

 

Waktu orangtua bertemu dan berkomunikasi dengan anak cenderung sangat terbatas. Tak hanya itu, kemajuan teknologi juga memicu orangtua lebih sibuk dengan gadget daripada bermain bersama anak.

Bahkan, dia melanjutkan, sebagian orangtua yang merasa bersalah karena tak memiliki banyak waktu bagi anak justru menghadiahi anak dengan gadget. Padahal, tak serta merta gadget berdampak positif bagi anak. "Proses sosialisasi anak berpotensi terbatas," ujarnya.

Kebijakan pemerintah menerapkan lima hari sekolah tak lepas dari fenomena itu. Dalam sepekan, anak bisa memiliki dua hari bersama orangtua jika sekolah berlangsung hanya lima hari. "Dua hari dalam sepekan menjadi hari keluarga. Itulah saatnya keluarga berperan optimal mendidik anak," katanya.

Pemerintah juga berencana menerapkan eduparenting bagi orangtua yang anaknya mulai bersekolah. Program pendidikan keorangtuaan akan diberikan di awal tahun ajaran dalam bentuk diskusi atau seminar. "Eduparenting juga bisa dimasukkan dalam materi pendidikan pra-perkawinan yang diatur oleh Kementerian Agama," ujarnya.

Pendidikan karakter di sekolah

Muhadjir Effendy mengatakan pendidikan karakter juga dilakukan di lingkungan sekolah. Nantinya, sekolah menerbitkan rapor ganda yang memuat nilai akademis dan pengembangan diri.

Bakat dan minat anak di luar pendidikan akademis akan dipantau guru sejak kelas 1 SD. Bukan tak mungkin, dia melanjutkan, bibit-bibit atlet nasional bisa ditemukan dengan tepat jika penilaian anak dilakukan berbasis bakat dan minat. "Guru berperan seperti talent scouting untuk menemukan bibit-bibit sumber daya manusia unggul," katanya.

Menurut dia, sekolah bisa mengadaptasi kearifan lokal dalam membentuk karakter anak. Lingkungan di sekitar sekolah bisa menjadi sarana pengembangan diri anak. "Kalau ada komunitas tari di dekat sekolah, anak bisa dilatih tari di situ. Atau jika ada sekolah sepakbola, silakan anak digembleng supaya menjadi atlet tangguh," ujarnya.

Karakter setiap anak tidak sama satu sama lain. Oleh karena itu, pembentukan karakter bersifat individual. Pendidikan karakter diterapkan berbasis bakat dan minat anak serta penanaman nilai-nilai baik. "Karakter anak itu unik dan istimewa, karena sangat individual," katanya.

Peran pendidikan agama

Kemenko PMK menilai pondok pesantren merupakan salah satu lembaga pendidikan yang berperam penting dalam mencerdaskan kehidupan bangsa. Selain itu, pesantren berfungsi mengembangkan karakter para santri.

Pembentukan dan pendidikan karakter tidak dapat hanya semata-mata melalui bangku sekolah, melainkan penanaman nilai-nilai tersebut diagendakan dalam aktivitas sosial. Santri mendapat bimbingan dan keteladanan langsung oleh para ustadznya yang memberikan teladan kehidupan sehari-hari di pesantren.

Sistem pembelajarannya yang berlangsung selama 24 jam menjadikan santri disiplin, cerdas, dan mampu membagi waktu dengan tepat.

Pendidikan karakter para santri memang diperlukan agar  anak kelak menjadi insan kamil, bisa merevolusi mental, menjadikan insan yang berintegritas dan berjiwa gotong-royong.

 

Peserta didik madrasah tengah belajar kitab kuning
Peserta didik madrasah tengah belajar kitab kuning

 
Kemenko PMK  berpandangan madrasah dan pondok pesantren mesti mendapat fasilitas yang sama dengan sekolah-sekolah lainnya, terkait penerimaan KKS (Kartu Keluarga Sejahtera) maupun KIP (Kartu Indonesia Pintar).

 

Santrijuga harus dibekali fasilitas yang ideal, seperti bidang kewirausahaan. Sehingga santri mempunyai keterampilan khusus sehingga siap kerja nyata di lapangan kerja.


sumber (http://edukasi.kompas.com/read/2017/08/30/18443461/pemerataan-pendidikan-siapkan-sdm-berkarakter-dan-berdaya-saing)

Posting oleh Desi Eri K 2 tahun yang lalu - Dibaca 7816 kali

 
Tag : #PSM #MBS #Pemerataanpendidikan

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Selasa, 11/06/2019 11:29:38
PROBLEMATIKA IMPLEMENTASI KURIKULUM 2013 DI SEKOLAH DASAR

Abstract Abstract: The purpose of this study is to: (1) describe the problem of teachers in designing learning...

Selasa, 28/05/2019 11:56:28
PPDB 2019 SMP Sistem Zonasi, Nilai USBN Tidak Diperhitungkan

jpnn.com, BANYUWANGI - Penerimaan peserta didik baru (PPDB) SD dan SMP Negeri di Banyuwangi segera dimulai, mayoritas...

7 Pilar MBS
MBS portal
7. Manajemen Budaya dan Lingkungan Berbasis Sekolah
a. Konsep DasarManajemen budaya dan lingkungan berbasis sekolah adalah pengaturan budaya dan lingkungan yang meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan budaya dan lingkungan sekolah, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip implementasi...
Informasi Terbaru
Penelitian
MBS portal
Peran Kepala Sekolah Dalam Implementasi Manajemen Berbasis Sekolah
Siti Mistrianingsih. Abstract: The main objective of this study is to describe the implementation of MBS, roles of headmaster, the factors supporting and inhibiting the implementation of MBS at Elementary School in Pandanwangi 1 Malang. The methods of research used the qualitative approach and...
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPA
Asyik Belajar dengan PAKEM : IPA
6 tahun yang lalu - dibaca 47762 kali
Asyik Belajar dengan PAKEM : Bahasa Inggris
Asyik Belajar dengan PAKEM : Bahasa...
4 tahun yang lalu - dibaca 30629 kali
Panduan Umum Penyelenggaraan Praktik Terbaik Program DBE 2
Panduan Umum Penyelenggaraan Praktik...
6 tahun yang lalu - dibaca 19249 kali
Panduan Kegiatan DBE1 Tingkat Kabupaten...
6 tahun yang lalu - dibaca 17789 kali
Panduan DBE1 Tingkat Sekolah September 2011
Panduan DBE1 Tingkat Sekolah September...
6 tahun yang lalu - dibaca 29937 kali
Manual Rekonstruksi dan Rehabilitasi - Pasca Gempa Gedung Sekolah dan Madrasah dengan Partisipasi Masyarakat
Manual Rekonstruksi dan Rehabilitasi -...
6 tahun yang lalu - dibaca 13542 kali
Integrasi Kecakapan Hidup dalam...
6 tahun yang lalu - dibaca 20364 kali
Pengajaran Profesional & Pembelajaran...
6 tahun yang lalu - dibaca 59823 kali
Info MBS
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak Perbatasan
Sekolah Berasrama Asa bagi Anak...
2 tahun yang lalu - dibaca 6637 kali
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik Mengajar Realistik
Program Keahlian Ganda Butuh Praktik...
2 tahun yang lalu - dibaca 5978 kali
Permen tentang Penguatan Pendidikan Karakter Disiapkan dalam Sepekan
Permen tentang Penguatan Pendidikan...
2 tahun yang lalu - dibaca 7669 kali
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM Berkarakter dan Berdaya Saing
Pemerataan Pendidikan Siapkan SDM...
2 tahun yang lalu - dibaca 7817 kali
72 Tahun Merdeka, Apa Kabar Pendidikan Indonesia?
72 Tahun Merdeka, Apa Kabar Pendidikan...
2 tahun yang lalu - dibaca 5336 kali
Lewat Teknologi, Anak-anak Muda Bicara Perpecahan Bangsa
Lewat Teknologi, Anak-anak Muda Bicara...
2 tahun yang lalu - dibaca 5934 kali
Cerita Pelajar SMA Saat Ajari Anak SD...
2 tahun yang lalu - dibaca 6923 kali
Mendikbud: Tanamkan Kejujuran sejak SD
Mendikbud: Tanamkan Kejujuran sejak SD
2 tahun yang lalu - dibaca 8581 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2019 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.54 Mb - Loading : 3.83495 seconds