Follow Us Email Facebook Google LinkedIn Twitter

SMK Negeri Paku

Jum'at, 30/09/2016 10:23:37

07smk paku.jpg



20160120_100135Melihat halaman sekolah yang sebagian masih lelap tertidur, lantas kepikiran untuk mengisi dengan tanaman-tanaman yang mudah perawatannya, namun tetap memiliki manfaat yang banyak. Pilihan pertama jatuh pada tanaman yang berasal dari tanah pulau kepala burung, Mahkota Dewa.

Kalau melihat dimasyarakat sebenarnya banyak sekali tanaman yang bisa dipergunakan, dimanfaatkan untuk kegiatan pengobatan baik secara langsung maupun tidak langsung,  kendala yang paling klasik adalah masyarakat belum mengenal, belum tahu cara menggunakan, belum tahu, dosisnya, belum tahu pasca panennya dan masih banyak lagi kendala yang secara tidak langsung sebenarnya masyarakat sendiri yang kurang menyadari atau masih minim kesadarannya untuk memakai, mengunakan dan memanfaatkan kekayaan alam ini.

20160120_100549

Untuk itulah tulisan ini mencoba menterjemahkan satu persatu mulai dari bagian – bagian tanaman, kesesuaian tempat, pemeliharaan, pemanenan, pasca panen hingga  penggunaan / pemanfaatan tanaman itu sendiri.

20160120_100549

Mahkota Dewa (Phaleria macrocarpa (Scheff.) Boerl merupakan tanaman  yang sosoknya berupa tanaman perdu, tajuknya bercabang-cabang, ketinggian tanaman ini bisa mencapai  2,5 meter, namun jika dibiarkan mencapai lima meter, umur tanaman ini mencapai puluhan tahun, tingkat produktivitas bisa sampai 10 hingga 20 tahun.

Tanaman mahkota dewa  terdiri dari akar, batang, daun, bunga serta buah. Akarnya berupa akar tunggang bisa mencapai 100 cm,  batang mahkota dewa kulitnya berwarna cokelat kehijauan, batangnya bergetah sehingga bila dicangkok sering mengalami kegagalan.

Daun mahkota dewa  merupakan daun tunggal, bentuknya lonjong langsing memanjang berunjung lancip, sekilas menyerupai bentuk daun jambu air, tetapi lebih langsing, warnanya hijau, daun tua berwarna lebih gelap daripada daun muda dengan panjang 7 – 10 cm, dengan lebar 3 – 5 cm.

Bunga mahkota dewa merupakan bunga majemuk yang tersusun dalam kelompok 2 – 4 bunga, bentuknya seperti terompet kecil, ketika mulai berbunga aroma baunya harum, ukurannya kira – kira sebesar bunga tanaman cengkeh, bunga ini keluar sepanjang tahun atau tak kenal musim, tetapi paling banyak pada musim penghujan.

Ciri khas buah mahkota dewa bentuknya bulat seperti bola, dari sebesar bola pingpong sampai sebesar apel merah, penampilannya tampak menawan, merah menyala sehingga tampak merangsang  selara untuk memakannya. Namun hati – hati karena memakan berarti harus siap – siap untuk merasakan mabuk atau pusing, karena bila  mengkonsumsi buah ini baik langsung maupun  tidak langsung dengan melebihi dosis maka akan merasakan mabuk. Buah mahkota dewa  terdiri dari  kulit, daging, cangkang dan biji.

Saat masih muda, kulitnya berwarna hijau seiring dengan perjalanan waktu maka buah berwarna merah marun dengan ketebalan sekitar 0,5 – 1 mm dengan daging buah berwarna putih, sedang ketebalan daging bervariasi, tergantung pada ukuran buah. Pengunaan kulit dan daging buah tidak dipisahkan sehingga kulit tidak perlu dikupas dulu seperti tanaman yang lain kalau mau dipakai.  Saat masih muda rasa kulit dan daging ini sepet – sepet agak manis,  jika dimakan akan menimbulkan bengkak dimulut, sariawan, mabuk bahkan keracunan. Buah mahkota dewa yang sudah tua biasanya daging buah mulai banyak berserat, sehingga bila diiris mengalami kesulitan, buah yang paling idial untuk digunakan adalah yang mendekati tua dan tidak terlalu muda.

Buah mahkota dewa yang sudah tua dan berwarna merah akan menyebabkan cangkang buah menjadi keras dan kuat sehingga bila disisir atau di iris mengalami kesulitan.  Cangkang buah yang kuat adalah untuk melingungi biji  dan berwarna putih, ketebalan bisa mencapai 2 mm, rasa cangkang buah sepet – sepet pahit, tetapi lebih pahit daripada kulit dan daging.

Tanaman ini sebenarnya adalah jenis tanaman yang sangat mudah  beradaptasi walaupun berasal dari daratan Papua namun mampu hidup diberbagai kondisi baik dataran rendah sampai dataran tinggi yaitu pada ketinggian 10 – 1.200 meter dpl (dari permukaan laut), namun pertumbuhan paling baik adalah pada ketinggian 10 – 1.000 meter dpl.

Tanaman ini akan tumbuh subur jika ditanam pada lahan yang gembur dengan kandungan bahan organik yang tinggi. Namun penanaman bisa ditanam di dalam pot  sesuai dengan keingginan atau selera penaman disamping itu bisa digunakan penghias halaman, atau ruangan yang akan memperindah suasana halaman.

Pada prinsipnya perbanyakan tanaman yang paling mudah dan tingkat resikonya kecil adalah dengan perbanyakan generatif, walaupun perbanyakan vegetatif pernah berhasil namun tidak sebaik  yang perbanyakan dengan generatif. Perbanyakan dengan biji perlu melalukan persemaian terlebih dahulu, memperhatikan biji yang akan disemai, media untuk semai, cara merawat persemaian hingga biji mahkota dewa kelihatan muncul tunas baru.

Pemindahan  ke media penanaman setelah berumur dua bulan atau ketinggiannya sudah mencapai 10 – 15 cm, cara memindahkannya jika persemaian dengan melubangi bagian bawah lalu dimasukkan ke lubang tanam, atau bila menaman pada media pot maka yang perlu dipersiapkan adalah media penanaman dulu.

Media penanaman di pot sama dengan penanaman di pekarangan atau kebun yaitu kompos atau pupuk kandang, pasir atau sekam dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Setelah media tanam siap masukkan ke dalam pot yang sudah disiapkan kemudian siram media yang sudah dalam pot sampai basah, tunggu  1 – 2 jam, kemudia buatkan lubang kecil, seukuran polybag persemaian, masukkan benih yang sudah dipisahkan dari polybag, kemudian tekan kiri dan kanan siram dengan air lagi dan yakinkan bahwa tanaman sudah selesai ditanam.

Untuk mendapatkan mahkota dewa yang berkwalitas sebaiknya hindari pemupukan dengan menggunakan pupuk – pupuk anorganik, sebaiknya digunakan pupuk kandang (organik),    bahan yang bisa dipakai untuk pupuk organik  tidaklah sulit karena bahan – bahan itu sebenarnya sudah ada disekitar masyarakat seperti kotoran kambing, sapi, ayam, dan kotoran hewan lainnya serta daun – daun yang sudah kering.

Dalam melakukan pemanenan mahkota dewa, sebaiknya perhatikan dulu bagian apa yang akan dipanen, soalnya cara memanen setiap bagian tanaman mahkota dewa  berbeda – beda sesuai dengan khasiatnya mulai dari penen daun sebaiknya dipilih daun yang masih segar dan tidak kena penyakit, daun dipanen  sebaiknya yang cukup tua, cirinya bentuknya paling besar dibandingkan dengan daun lain. Sedangkan buah yang diambil sebaiknya yang sudah mulai merah  dan tidak memiliki cacat sekecil apapun. Dianjurkan pemanfaatan kulit dan daging buah dengan cara merebusnya terlebih dahulu. Kulit dan daging buah juga termasuk tanaman yang paling sering digunakan untuk pengobatan.

Siapa lagi yang akan melestarikan warisan leluhur kita kalau bukan kita sendiri, siapa yang akan memanfaatkan potensi alam kita kalau bukan kita sendiri.

sumber : (https://smkn1paku.wordpress.com/2016/03/03/mahkota-dewa-bagian-1/)

Posting oleh Desi Eri K 3 tahun yang lalu - Dibaca 6964 kali

 
Tag : #PSM #MBS #pemanfaatanlahan #SMKPaku

Berikan Komentar Anda

Artikel Pilihan
Bacaan Lainnya
Rabu, 06/03/2019 12:52:00
Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas Biaya Pendidikan Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "Tahun Ini, 3.725 SMA/SMK se-Jatim Bebas Biaya Pendidikan", https://regional.kompas.com/re

SURABAYA, KOMPAS.com - Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa mencanangkan program untuk menggratiskan...

Selasa, 19/02/2019 15:48:33
Pendidikan Karakter Menjadi Salah Satu Solusi

JAKARTA - Perilaku buruk siswa yang berani menantang guru dinilai sebagai salah satu bentuk kegagalan sistem pendidikan...

7 Pilar MBS
6. Manajemen Hubungan Sekolah dan Masyarakat Berbasis Sekolah
a. Konsep DasarManajemen hubungan sekolah dan masyarakat berbasis sekolah adalah pengaturan hubungan sekolah dan masyarakat yang meliputi kegiatan merencanakan, mengorganisasikan, melaksanakan, dan mengevaluasi program kegiatan hubungan sekolah dan masyarakat, dengan berpedoman pada prinsip-prinsip...
Informasi Terbaru
Penelitian
Kepemimpinan Kepala Sekolah, Kemampuan Mengajar Guru dan Inovasi Pendidikan
Raden Bambang Sumarsonorbamsum@gmail.comUniversitas Negeri Malang, Jl. Semarang Nomor 5 Malang 65145 Abstrak: Penelitian ini bertujuan untuk: 1) mendeskripsikan perilaku kepemimpinan kepala sekolah di SMA Negeri Se-Malang Raya, 2) mendeskripsikan kemampuan mengajar guru SMA Negeri Se-Malang Raya,...
Modul dan Pedoman
Video MBS
Modul MBS
Better Teaching Learning 3 TOT Provinsi...
6 tahun yang lalu - dibaca 23587 kali
TIK sebagai Kecakapan Hidup
TIK sebagai Kecakapan Hidup
6 tahun yang lalu - dibaca 24002 kali
Lembar Presentasi Fasilitator
6 tahun yang lalu - dibaca 27255 kali
Modul Pelatihan Pengawas Sekolah
Modul Pelatihan Pengawas Sekolah
6 tahun yang lalu - dibaca 39604 kali
Info MBS
Banyak Guru Sulit Temukan Masalah di Kelas
Banyak Guru Sulit Temukan Masalah di...
3 tahun yang lalu - dibaca 9504 kali
Bawa Sayuran Saat Belajar Membaca
Bawa Sayuran Saat Belajar Membaca
3 tahun yang lalu - dibaca 8097 kali
Dinas Pendidikan Tangsel Berikan Pelatihan Manajemen Berbasis Sekolah
Dinas Pendidikan Tangsel Berikan...
3 tahun yang lalu - dibaca 9835 kali
Ini Dia Pak Khasbi, Dari Pelosok yang Menjadi Guru Berprestasi Se-Jateng
Ini Dia Pak Khasbi, Dari Pelosok yang...
3 tahun yang lalu - dibaca 9873 kali
 Guru Diminta Arahkan Siswa Ciptakan Aplikasi Inovatif
Guru Diminta Arahkan Siswa Ciptakan...
3 tahun yang lalu - dibaca 9593 kali
Mengagumkan, Sururi dengan Kudanya Ajak Anak-Anak Gemar Membaca
Mengagumkan, Sururi dengan Kudanya Ajak...
3 tahun yang lalu - dibaca 7861 kali
MBS Kunci Pengembangan Sekolah
MBS Kunci Pengembangan Sekolah
3 tahun yang lalu - dibaca 11292 kali
Mengelola Budaya Baca Tanggung Jawab Semua Pihak
Mengelola Budaya Baca Tanggung Jawab...
3 tahun yang lalu - dibaca 9427 kali
Follow Us :
Get it on Google Play

©2013-2019 Manajemen Berbasis Sekolah
MUsage: 3.52 Mb - Loading : 3.30982 seconds